Minggu, 09 April 2017

Testimoni Psikologi Pendidikan

Selama saya belajar mata kuliah Psikologi Pendidikan di semester dua ini, saya telah diajarkan oleh para dosen dengan sangat baik sehingga bukan hanya saya, tetapi teman-teman saya yang lain dapat memahami materi yang disampaikan oleh para dosen dengan baik. Para dosen yang mengajarkan mata kuliah Psikologi Pendidikan ini memiliki berbagai cara yang berbeda dalam mengajar sehingga saya dan teman-teman tidak merasa bosan dengan materi yang diajarkan. Salah satu kegiatan yang belum pernah saya lakukan sebelumnya yaitu seperti observasi membuat saya mengerti dan memahami bagaimana proses belajar-mengajar antara guru dan para murid yang berada di sekitar tempat saya tinggal. Tidak hanya itu, terdapat dosen pengampu mata kuliah Psikologi Pendidikan yang berperan aktif dalam memberikan saran dan berdiskusi yang baik dengan mahasiswa-mahasiswanya menggunakan media sosial online yang memudahkan saya dan teman-teman untuk berinteraksi dengan dosen. Demikian testimoni perihal mata kuliah Psikologi Pendidikan yang dapat saya sampaikan selama saya mengikuti mata kuliah ini dalam beberapa pertemuan. Terima kasih.

Jumat, 07 April 2017

Inteligensi

Inteligensi
Pandangan Awam tentang Inteligensi
            Inteligensi adalah istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran ataupun kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi
 o   Ciri-ciri Perilaku Inteligen Tinggi
-          Kemampuan untuk memahami dan menyelesaikan masalah mental dengan cepat
-          Kemampuan mengingat
-          Kreativitas tinggi
-          Imajinasi yang berkembang
 o   Ciri-ciri Perilaku Inteligen Rendah
-          Perilaku lamban
-          Tidak cepat mengerti
-          Kurang mampu menyelesaikan masalah mental yang sederhana
Inteligensi dalam Definisi
    Ø  Inteligensi bagaikan listrik, mudah diukur namun hampir mustahil untuk didefinisikan
    Ø  Terman           :   Kemampuan seseorang untuk berpikir secara abstrak
   Ã˜  Thorndike    : Kemampuan dalam memberikan respon yang baik dari pandangan kebenaran atau fakta
   Ã˜ Wechsle      :Inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif
     Ã˜   Flynn              : Kemampuan berpikir secara abstrak dan kesiapan untuk belajar dari pengalaman
Perbedaan Pandangan Awam dengan Ahli
Awam
Ahli
Kemampuan Praktis untuk Pemecahan Masalah
Kemampuan Memecahkan Masalah
Nalar yang baik
Mampu menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yang dihadapi
Melihat hubungan diantara berbagai hal
Mengambil keputusan tepat
Melihat aspek permasalahan secara menyeluruh
Menyelesaikan masalah secara optimal
Pikiran terbuka
Menunjukkan pikiran jernih
Kemampuan Verbal
Inteligensi Verbal
Berbicara dengan artikulasi yang baik dan fasih
Kosakata baik
Berbicara lancar
Membaca dengan penuh pemahaman
Punya pengetahuan di bidang tertentu
Ingin tahu secara intelektual

Menunjukkan keingintahuan
Kompetensi Sosial
Inteligensi Praktis
Menerima orang lain seperti adanya
Tahu situasi
Mengakui kesalahan
Tahu cara mencapai tujuan
Tertarik pada masalah sosial
Sadar terhadap dunia sekeliling
Tepat waktu bila berjanji
Menunjukkan minat terhadap dunia luar
Keberhasilan dalam Belajar
 o   Faktor Internal
Fisik     : Panca indera, kondisi fisik
Psikologis
-          Non Kognitif : minat, motivasi, kepribadian
-          Kognitif          : bakat, inteligensi
 o   Faktor Eksternal
Fisik     : Kondisi tempat belajar, sarana dan perlengkapan belajar, materi belajar, kondisi lingkungan belajar
Sosial   : Dukungan sosial, pengaruh budaya
Faktor-faktor Inteligensi
 o   William Stern (Uni Factor Theory)
Teori Kapasitas Umum
            Inteligensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum, cara kerja inteligensi juga bersifat umum. Kapasitas umum timbul akibat pertumbuhan fisiologis dan akibat belajar
 o   Spearman:
Faktor Umum ( G faktor)
Faktor Khusus (S faktor)
(Two Factors Theory)
Faktor umum, yaitu faktor yang menentukan apakah seseorang itu secara umum bodoh atau pandai
Faktor khusus, yaitu faktor yang menentukan kepandaian seseorang dalam bidang tertentu, seperti fisika, bahasa.
Multi Factors Theory
 o   E.L. Thorndike
Inteligensi terdiri dari bentuk hubungan-hubungan neural antara stimulus dan respon. Hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu.
 o   Thurstone
Faktor umum tidak ada, yang ada hanya sekelompok faktor yang diberi nama Primary Mental Abilities (7 faktor)
1. Pengertian verbal
2. Kemampuan angka
3. Penglihatan keruangan
4. Kemampuan penginderaan
5. Ingatan
6. Penalaran
7. Kelancaran kata
 o   Thomson
Inteligensi mengandung banyak sekali faktor yang masing-masing bebas dan berdiri sendiri, tapi faktor yang berfungsi pada suatu saat tertentu hanyalah sebagian kecil saja dari keseluruhan faktor yang ada.
Tes Inteligensi
 o   Tes Individual
 o   Tes Kelompok
Tes Individual
 o   Tes Binet
 o   Skala Wechsler

Tes Binet
  §  Tahun 1904: Alfred Binet diminta Pemerintah Perancis menyusun metode untuk identifikasi anak yang tidak mampu belajar di sekolah (bersama Theophile Simon)
     §  Berdasarkan konsep inteligensi Stern
     §  Anak yang kurang mampu belajar di sekolah umum akan dialihkan ke sekolah khusus
     §  Tahun 1905: Berhasil disusun Skala 1905 terdiri dari 30 item
     §  Binet mengembangkan konsep:
Mental Age (MA)
                        MA: usia mental, level perkembangan mental individu yang berkaitan dengan perkembangan lain
                  §  1912: William Stern menciptakan konsep
Intelligence Quotient (IQ)
IQ = MA/CA x 100
§ Jika usia mental sama dengan usia kronologis, IQ = 100
§ Usia mental dapat berbeda dengan usia kronologis
§  Bila usia mental di atas usia kronologis maka IQ > 100
§  Bila usia mental di bawah usia kronologis maka IQ < 100
§  Tes Binet mengalami revisi berkali-kali, disebut dengan Stanford-Binet
§  Tes Binet untuk usia 2 tahun hingga dewasa
§  Tahun 1985: Edisi ke-4 tes Stanford-Binet
Skala Wechsler
      §  Oleh David Wechsler
      §  Memperkenalkan IQ verbal dan IQ Performance
     §  WPPSI-R: Wechsler Preschool and Primary Scale of Intelligence-Revised untuk usia 4-6.5 tahun
      §  WISC-R: Wechsler Intelligence Scaler for Children
Revised untuk usia 6-15 tahun
      §  WAIS-R: Wechsler Adult Intelligence Scale – Revised
Tes Kelompok
 o   Lorge-Thorndike Intelligence Tests
 o   Kuhlman-Anderson Intelligence Tests
 o   Otis-Lennon School Mental Abilities
PERBEDAAN
Tes Individual
Tes Kelompok
Kurang ekonomis
Lebih nyaman bagi anak
Pemahaman murid akan lebih baik
Ekonomis
Dapat menyusun laporan individual
Pemahaman murid mungkin terbatas
Dapat mengukur tingkat kecemasan murid
Tidak dapat disusun laporan individual

Tidak dapat mengukur tingkat kecemasan murid
Menginterpretasi Skor Tes IQ
o   Jauhi pandangan stereotip dan perkiraan negatif tentang murid
o   Jangan gunakan tes IQ sebagai ukuran utama untuk kompetensi

o   Berhati-hati lah dalam menginterpretasikan makna dari seluruh nilai IQ

Belajar (Learning)

Belajar (Learning)

Belajar (Learning) dapat didefinisikan sebagai perubahan perilaku yang relative permanen yang dibentuk melalui pengalaman. Tidak semua perubahan perilaku merupakan atau berasal dari hasil belajar. Perubahan perilaku yang disebabkan oleh atau karena obat, kelelahan, maturasi, dan luka bukan merupakan definisi dari belajar.
Kondisioning Klasikal: Belajar Asosiasi
  Ø  Tokoh              : Ivan Pavlov
  Ø  Elemen Kunci  : Asosiasi 2 stimulus
  Ø  2 hal penting berkaitan dengan pembentukan asosiasi:
1. Frekuensi
2. Timing 
  Ø Definisi        : “Suatu bentuk belajar dimana stimulus netral (CS) dipasangkan dengan                              UCS untuk menghasilkan CR yang identik dengan UCR.”
Terminologi dalam Kondisioning Klasikal
  Ø  Unconditioned Stimulus (UCS)
Merupakan stimulus alamiah yang mendatangkan respon tanpa pengkondisian/belajar 
  Ø  Unconditioned Response
Merupakan respon alamiah terhadap stimulus alamiah
  Ø  Conditioned Stimulus
Merupakan stimulus yang dapat mendatangkan respon setelah dipasangkan dengan UCS
  Ø  Conditioned Response
Merupakan respon yang identik dengan ACR yang dihasilkan dari CS
     Belajar kondisioning klasikal berperan dalam memahami issue phobia atau rasa takut. Hasil belajar kondisioning klasikal dapat dihilangkan dengan teknik counterconditioning
Kondisioning Operan: Belajar Konsekuensi
            Kondisioning operan merupakan belajar dimana konsekuensi dari perilaku mengarahkan pada perubahan probabilitas terjadinya perilaku. Ada 3 macam konsekuensi yang mempengaruhi perilaku, yaitu:
1. Penguatan Positif
2. Penguatan Negatif
3. Hukuman
1. Penguatan Positif
Merupakan konsekuensi yang mengarahkan pada peningkatan probabilitas terjadinya perilaku. Ada 2 hal penting yang harus diperhatikan dalam pemberian penguatan positif:
            1. Timing
            2. Konsistensi pemberian penguat
Schedules of Positive Reinforcement
  Ø  Fixed Ratio
  Ø  Variable Ratio
  Ø  Fixed Interval
  Ø  Variable Interval
Shaping
            Shaping yaitu ketika respon yang diharapkan tidak kunjung muncul, maka perlu untuk melakukan shaping. Dalam kata lain, shaping merupakan strategi pemberian penguatan positif pada perilaku-perilaku yang mendekati perilaku yang diinginkan.
            2. Penguatan Negatif
Merupakan penguat yang berasal dari pemindahan atau penghindaran suatu kejadian negative sebagai konsekuensi dari perilaku.
Escape Conditioning
Avoidance Conditioning
            3. Hukuman
Merupakan konsekuensi negative dari perilaku yang mengarahkan pada penurunan frekuensi perilaku.
Dangers of Punishment
  Ø  Reinforcing to the punisher
  Ø  Has a generalized inhibiting effect
  Ø  Learning to dislike and reacting aggressively (physical punishment)
  Ø  Criticism trap
  Ø  Doesn’t teach the individual how to react more appropriately
Petunjuk Penggunaaan Hukuman
  Ø      Jangan menggunakan hukuman fisik
 Ã˜  Jangan hanya menghukum tapi berikan juga penguat positif pada perilaku yang benar untuk menggantikan perilaku yang ingin dieliminir melalui hukuman
  Ø     Jangan menghukum “orangnya” tapi “perilakunya”. Hentikan hukuman bila perilaku telah berhenti
  Ø     Jangan campuradukkan hukuman dan hadiah untuk perilaku yang sama
  Ø     Sekali telah memutuskan untuk memulai hukuman, jangan pernah mundur lagi
Perbedaan Kondisioning Klasikal dan Operan
No
Kondisioning Klasikal
Kondisioning Operan
1.
Asosiasi antara 2 stimulus
Asosiasi antara respon dan konsekuensi
2.
Melibatkan perilaku refleks dan involuntary yang dikontrol oleh tulang belakang atau sistem syaraf otonom
Perilaku voluntary  yang lebih kompleks yang dimediasi oleh sistem syaraf somatic
3.
UCS dipasangkan dengan CS. Individu tidak perlu melakukan apapun untuk penyajian UCS dan CS.
Konsekuensi penguatan hanya terjadi jika respon yang dikondisikan lebih muncul.
Stimulus Discrimination & Generalization
 o   Stimulus Discrimination
            Merupakan kecenderungan untuk merespon lebih sering terhadap satu stimulus daripada stimulus lainnya.
 o   Stimulus Generalization
Merupakan kecenderungan bagi stimulus yang mirip untuk menghasilkan respon yang sama.
Pendekatan Kognitif
Belajar, yaitu proses mental aktif untuk memperoleh, mengingat, dan menggunakan pengetahuan
Outcome, yaitu pengetahuan dan mengetahui
Elemen paling penting dalam proses belajar, yaitu pengetahuan.
Perbandingan Pendekatan Kognitif dan Perilaku dalam Belajar
1.  Menurut Kognitif, yang dipelajari adalah pengetahuan; perubahan pada pengetahuan mengubah perilaku. Menurut Perilaku, perilaku lah yang dipelajari
2. Keduanya meyakini bahwa penguat/reinforcement merupakan hal penting dalam belajar. Menurut Pendekatan Perilaku, reinforcement menguatkan respon. Menurut Pendekatan Kognitif, reinforcement merupakan sumber pengetahuan yang menyediakan umpan balik mengenai hal yang mungkin terjadi bila perilaku diulang atau diubah
3. Dalam Pendekatan Perilaku, individu bersifat pasif dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam Pendekatan Kognitif, individu aktif memilih, mempraktekkan, memberi perhatian, mengabaikan, merefleksikan, dan mengambil keputusan lainnya.




Sabtu, 25 Maret 2017

Psikologi dan Tahap Perkembangan Pendidikan

Masa Kanak-Kanak Awal / Prasekolah (2-6 tahun)
Ø Masa negativis (Trotzalter) sering disebut juga masa membangkang
Ø Masa bermain
·        Unoccuppied behavior
·        Unlooker behavior
·        Solitary dependent play
·        Parallel play
·        Associative play
·        Cooperative play
Ø Masa eksplorasi
Ø Masa meniru
Ø Tahap perkembangan kognitif (Piaget): Praoperasional
Ciri-ciri :
·         Belajar menggunakan bahasa
·         Cara berpikir bersifat egosentris
Ø  Tingkat perkembangan moral (Kohlberg): Prakonverensional
·         Tahap 1 : Orientasi hukuman
·         Tahap 2 : Orientasi ganjaran

Masa Kanak-Kanak Akhir
Ø Usia 6 tahun sampai matang secara seksual (setara dengan usia tingkat SD)
Ø 1-2 tahun terakhir mengalami masa pubertas
Ø Pengaruh teman sebaya mulai dominan
Ø Tahap kognitif : Operasional-Konkrit
·        Mampu berpikir logis tentang objek dan kejadian
·        Menguasai konversi jumlah dan berat
·        Mampu mengklasifikasikan objek
Ø Tingkat perkembangan moral : Konvensional
·        Tahap 3 : Orientasi “goodboy/ girl”
·        Tahap 4 : Orientasi otoritas
Ø Menurut Erikson : Tahap industry vs inferiority

Masa Remaja (Adolescence)
Ø Mulai usia 11/12 sampai 18/24 tahun
Ø Perkembangan fisik : Mengarah ke bentuk badan yang dewasa
Ø Perkembangan seksual : Mulai aktifnya hormon seksual  (Menarche dan Polutio)
Ø Perkembangan heteroseksual : Tertarik pada lawan jenis
Ø Perkembangan emosional : Emosi tidak stabil, berubah-ubah dan cenderung meledak-ledak
Ø Perkembangan kognitif : Operasional formal
Ciri-ciri :
·        Mampu berpikir logis menenai sesuatu yang abstrak
·        Menaruh perhatian tentang masa depan, konsep ideologis, dan membuat hipotesis
Ø Pola piker cenderung egosentris
Ø Perkembangan identitas diri : Identity vs Role confusion, timbul pertanyaan siapa saya. Rasa ingin diakui dan cenderung meniru “idola” nya.
Ø Perkembangan moral : kebanyakan tingkat konvensional, namun sebagian sudah post konvensional.
·        Tahap 5 : Orientasi kontak sosial

·        Tahap 6 : Orientasi asas etis.

Comments system

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.