Minggu, 02 Juli 2017

Tes dan Evaluasi

Tes Standar
Apa itu Tes Standar?
            Tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia dan level yang sama, dan dalam banyak kasus perbandingan inni dilakukan dalam tingkat nasional.
            Apa bedanya tes standar dan tes yang dibuat oleh pengajar (guru)? Soal tes bbuatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertentu. Sedangkan tes standar mencakup berbagai materi yang lazimnya diajarkan di kebanyakan kelas. Perbedaan lain antara tes standar dan tes buatan guru adalah banyak tes standar yang memiliki aturan umum dan kebanyakan telah dievaluasi validitas dan reliabilitasnya.

Tujuan Tes Standar
  •          Memberikan informasi tentang kemajuan murid
  •          Mendiagnosis kekuatan dan kelemahan murid
  •          Memberikan bukti untuk penempatan murid dalam program khusus
  •          Memberikan informasi untuk merencanakan dan meningkatkan pengajaran        atau instruksi
  •         Membantu administrator mengevaluasi program
  •         Memberikan akuntabilitas
Tes berbasis standar adalah tes yang menilai kemampuan/keahlian yang diharuskan dimiliki murid sebelum mereka naik ke kelas berikutnya atau kelulusannya
Tes beresiko tinggi adalah menggunakan tes dengan cara sedemikian rupa yang mengandung konsekuensi penting bagi murid, memengaruhi keputusan seperti apakah murid itu akan naik kelas atau lulus

Tes Kecakapan dan Tes Prestasi
Tes kecakapan (aptitude test) adalah tipe tes yang didesain guna memprediksi kemampuan murid untuk mempelajari suatu keahlian atau menguasai sesuatu dengan pendidikan dan training tingkat lanjut
Tes prestasi adalah tes yang dimaksudkan untuk mengukur apa yang telah dipelajari atau keahlian apa yang telah dikuasai murid.

Ujian Negara Berisiko Tinggi (High-Stakes)
            Ujian negara hanya memberikan tinjauan umum atas seberapa baik murid di suatu negara bagian (AS) dalam mata pelajaran tertentu, terutama membaca dan matematika. Pada tahun 1990-an kebanyakan negara bagian di AS punya atau sedang dalam proses identifikasi sasaran yang harus dicapai oleh setiap murid di suatu negara. Sasaran ini menjadi basis bukan hanya untuk ujian negara, tetapi juga untuk menjadi pedoman aktivitas seperti pendidikan guru dan penentuan kurikulum (Whitford & Jones, 2000).

Keuntungan dan Penggunaan Tes Berisiko Tinggi
  1.        .  Meningkatkan kinerja murid
  2.         . Lebih banyak waktu untuk mengajarkan pelajaran yang diajarkan
  3.         . Ekspektasi tinggi untuk semua murid
  4.         . Identifikasi sekolah, guru, dan administrator yang berkinerja payah
  5.         . Meningkatkan rasa percaya diri di sekolah setelah nilai ujian naik

Kritik Terhadap Ujian Negara
  •      Menumpulkan kurikulum dengan penekanan lebih besar pada hafalan ketimbang pada keahlian berpikir dan memecahkan masalah
  •      Mengejar demi ujian
  •      Diskriminasi terhadap murid dan status sosioekonomi (SES)

Peran Guru
1. Mempersiapkan murid untuk mengikuti tes standar
2. Menjalankan tes standar
3. Memahami dan menginterpretasikan hasil tes

Memahami Statistik Deskriptif
Statistik Deskriptif merupakan prosedur matematika yang dipakai untuk mendeskripsikan dan meringkas data (informasi) dengan cara yang bermakna

Distribusi Frekuensi
Sebuah daftar nilai, biasanya dari yang terttinggi ke yang terendah, bersama berapa kali nilai itu muncul
Histogram merupakan distribusi frekuensi dalam bentuk grafik

Pengukuran Tendensi Sentral
Tendensi sentral adalah statistik yang memberikan informasi tentang rata-rata atau nilai tipikal pada seperangkat data
Mean adalah nilai yang berada tepat ditengah-tengah distribusi nilai setelah nilai itu disusun (atau diurutkan)
Mode adalah nilai yang paling sering muncul
Pengukuran Variabilitas
Ukuran variabilitas yakni memberi tahu kita tentang seberapa besar nilai bervariasi dari satu nilai ke nilai lainnya
Range yakni selisih antara nilai tertinggi da terendah
Deviasi standar yakni ukuran seberapa banyak satu set nilai bervariasi pada rata-rata di seputar mean nilai


Distibusi Normal
“Kurva berbentuk lonceng” dimana sebagian besar nilai berkumpul disekitar mean, semakin jauh di bawah atau di atas mean, semakin jarang nilai itu muncul


Isu Manajemen di Kelas Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah

             Kelas SD dan SMP/SMA mengandung banyak isu manajemen yang mirip pada semua level pendidikan, manajer kelas yang baik mendesain lingkungan yang positif untuk pembelajaran, membangun dan menegakkan aturan, mengajak murid bekerja sama, mengatasi problem secara efektif, dan menggunakan strategi komunikasi yang baik.

            Akan tetapi, prinsip manajeman kelas yang baik terkadang diaplikasikan secara berbeda disekolah dasar dan menengah karena perbedaan strukturnya. Di banyak SD, guru harus menghadapi 20 sampai 25 murid selama seharian. Di SMP dan SMA, guru menghadapi lima tau enam kelompok terdiri dari 20 sampai 25 murid selama 50 menit satu hari. Dibandingkan dengan sekolah menengah, murid SD menghabiskan lebih banyak waktu dengan murid yang sama dikelas kecil, dan berinteraksi dengan orang yang selama seharian sehingga bisa menimbulkan kebosanan dan problem lain. Akan tetapi, dengan 100 sampai 150 murid, guru disekolah menengah atas menghabiskan lebih sedikit waktu dengan murid di kelas, akan lebih sulit bagi mereka untuk membangun hubungan personal dengan murid. Dan guru sekolah menengah harus bergerak cepat dan mengelola waktu dengan efektif karena periode kelasnya pendek.

            Dibandingkan di SD, problem sekolah menengah dapat lebih lama dan dalam karenanyalebih sulit untuk dimodifikasi. Juga, problem disiplin di sekolah menengah biasanya lebih berat, murid lebih mungkin membangkang pada aturan dan bahkan bertindak bebahaya. Karena kebanyakan murid sekolah menengah punya keterampilan penalaran yang lebih maju dibandingkan murid SD. Mereka munkin menginginkan penjelasan yang lebih logis dan masuk akal tentangauran dan disiplin yang diberlakukan. Dan juga disekolah menengah, sosialisasi perbedaan –perbedaan antara sekolah dasar dan menengah ini saat kita membahas cara mengelola kelas secara efektif. Seperti yang akan kita lihat nanti, baik di level sekolah dasar maupun menengah, kelas bisa jadi dapat, kompleks, dan kacau.


  • Kelas Padat, Kompleks, dan Berpotensi Kacau
            Dalam menganalisa lingkungan kelas, Walter Doyle (1986) mendeskripsikan enam karakteristik yang merefleksikan kompleksitas dan potensi problemnya :

-          Kelas adalah muitidimendional

-          Aktivitas terjadi secara simultan

-          Hal-hal terjadi ecara cepat

-          Kejadian sering kali tidak dapat diprediksi

-          Hanya ada sedikit privasi

-          Kelas punya sejarah

  • Mendesain Lingkungan Fisik Kelas
1. Prinsip Penataan Kelas

Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang.Pastikan bahwa anda dapat dengan mudah melihat semua murid.Materi pengajaran dan perlengkapan murid harus mudah di akses.Pastikan murid dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. 

2. Gaya penataan

a. Penataan Kelas Standar

Gaya auditorium, yaitu semua murid duduk menghadap guru. Penataan ini membatasi kontak murid tatap muka dan guru bebas bergerak ke mana saja. Gaya auditorium sering kali dipakai ketika guru mengajar atau seseorang memberi presentasi di kelas.Gaya tatap muka (face to face), yaitu murid saling mengahadap. Gangguan dari murid-murid akan lebih besar pada susunan ini ketimbang pada susunan auditorial.Gaya off-set, yaitu sejumlah murid (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku  tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain. Gangguan dalam gaya ini lebih sedikit ketimbang gaya tatap muka dan efektif untuk kegiatan pembelajaran kooperatif.Gaya seminar, yaitu sejumlah besar murid (10 atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.Gaya klaster (cluster), yaitu sejumlah murid (biasanya 4 sampai 8 anak) bekerja dalam kelompok kecil. Susunan ini terutama efektif untuk aktivitas pembelajaran kolaboratif. 

b. Personalisasi Kelas

Menurut pakar kelas Carol Weinstein dan Andrew Mignano (1997), kelas sering kali mirip dengan kamar hotel, nyaman tetapi impersonal, tidak mengungkapkan apapun tentang orang yang menggunakan ruang itu. Untuk mempersonalisasikan kelas, pasang foto murid, karya seni, tugas, diagram tanggal lahir murid (untuk murid SD), dan ekspresi murid yang positif.
Menciptakan Lingkungan yang Positif untuk Pembelajaran

  • Strategi Umum
1.  Menggunakan Gaya Otoritatif

Strategi manajemen kelas otoritatif akan mendorong murid untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring murid. Guru yang otoritatif melibatkan murid dalam kerja sama give-and-take dan menunjukkan sikap perhatian kepada mereka. Guru yang otoritatif akan menjelaskan aturan dan regulasi, serta menentukan standar dengan masukan murid.

Gaya otoritatif bertentangan dengan strategi otoritarian dan permisif yang tidak efisien. Gaya manajemen kelas otoritarian adalah gaya yang restriktif dan punitif. Fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol murid dan tidak banyak melakukan percakapan dengan mereka. Murid di kelas otoritarian ini cenderung pasif, mengekspresikan kekhawatiran tentang perbandingan sosial, dan memiliki ketrampilan komunikasi yang buruk.

Gaya manajemen kelas permisifmemberi banyak otonomi pada murid tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku mereka. Output yang dihasilkan yaitu murid memiliki ketrampilan akademis yang tidak memadahi dan pengendalian diri yang rendah.


2. Mengelola Aktivitas Kelas Secara Efektif (Jacob Kounin, 1970)

a)  Menunjukkan seberapa jauh mereka “mengikuti”. Kounin menggunakan istilah “withitness” untuk mendeskripsikan strategi dimana murid senantiasa mengikuti apa yang terjadi. Guru seperti ini akan selalu memonitor murid secara reguler.

b) Atasi situasi tumpang tindih secara efektif. Contohnya ketika berjalan keliling ruangan dan memeriksa pekerjaan murid, matanya tetap mengawasi seluruh kelas.

c) Menjaga kelancaran dan kontinuitas pelajaran. Manajer yang efektif akan menjaga aliran pelajaran tetap lancar, mempertahankan minat murid, dan menjaga murid agar tidak mudah terganggu. Guru sebaiknya jangan meninggalkan aktivitas yang sedang berjalan dengan alasan yang tidak jelas.

d) Libatkan murid dalam aktivitas yang menantang. Aktivitas menantang yang dimaksud bukan aktivitas yang terlalu sulit. Murid sering bekerja secara independen ketimbang diawasi oleh guru.


  • Membuat, Mengajarkan, serta Mempertahankan Aturan dan Prosedur
1. Membedakan Aturan dan Prosedur

Peraturan maupun prosedur adalah pernyataan ekspektasi tentang perilaku (Evertson, Emma, & Worsham, 2003). Aturan fokus pada ekspektasi umum atau khusus atau standar perilaku. Contoh aturan umum yaitu “Hargai orang lain” sedangkan contoh aturan khusus yaitu “Dilarang mengunyah permen karet di kelas”.

Prosedur (routines) juga berisi ekspektasi tentang perilaku namun biasanya diterapkan untuk aktivitas spesifik dan digunakan untuk mencapai tujuan, bukan untuk melarang perilaku tertentu atau menciptakan standar umum. Contoh prosedur : untuk meninggalkan ruangan (ijin pergi ke kamar kecil), kembali ke ruangan (setelah jam makan siang), dan mengakhiri hari (setelah membersihkan meja).


2. Mengajarkan Aturan dan Prosedur

Cara terbaik untuk membuat murid belajar tentang peraturan dan prosedur adalah dengan melibatkannya (diskusi) dalam menentukan peraturan dan prosedur tersebut. Hal ini akan mendorong mereka untuk memikul tanggung jawab lebih atas perilaku mereka sendiri (Emmer, Evertson, & Worsham, 2003).


  • Membuat Murid Bekerja Sama
1.    Mengembangkan hubungan yang positif dengan murid

2.    Membuat murid berbagi dan memikul tanggung jawab

3.    Memberikan hadiah terhadap perilaku yang tepat

4.    Memilih penguat yang efektif

5.    Menggunakan Prompts (dorongan) dan Shaping (pembentukan) secara efektif

6.    Gunakan hadiah untuk memberi informasi tentang penguasaan, bukan untuk mengontrol perilaku murid

Pelajar yang Tidak Biasa

Siapakah Anak yang Menderita Ketidakmampuan itu?
Dahulu istilah “ketidakmampuan” (disability) dan “cacat” (handicap) dapat dipakai bersama-sama, namun kini kedua istilah itu dibedakan. Disability adalah keterbatasan fungsi yang membatasi kemampuan sesorang. Handicap adalah kondisi yang dinisbahkan pada seseorang yang mederita ketidakmampuan. Kondisi ini boleh jadi disebabkan oleh masyarakat, lingkungan fisik, atau sikap orang itu sendiri (Lewis, 2002).


  • Gangguan Indra
          Gangguan indra mencakup gangguan atau kerusakan penglihatan dan pendengaran.


  • Gangguan Penglihatan
          Beberapa murid mengalami problem penglihatan (visual) yang masih belum diperbaiki. Jika ada murid yang memicingkan matanya dan sering mengeluh karena pandangannya kabur, maka suruh merka untuk memeriksakan matanya. Kebanyakan dari mereka akan diminta menggunakan kaca mata. Tetapi ada segelintir murid (sekitar 1 dari 1000 murid) menderita gangguan visual serius dan dikategorikan rusak penglihatannya. Ini termasuk murid yang menderita low vision dan menjadi buta.

Anak-anak yang menderita low visionpunya jarak pandang antara 20/70 dan 20/200 (pada skala Snellen dimana angka normalnya adalah 20/20) apabila  dibantu lensa korektif.


  • Gangguan Pendengaran
      Gangguan pendengaran dapat menyulitkan proses belajar anak. Anak-anak yang tuli sejak lahir atau menderita tuli sejak anak-anak biasanya lemah dalam kemampuan berbicara dan bahasanya.
Banyak anak yang memiliki masalah pendengaran mendapatkan pengajaran tambahan di luar kelas reguler. Pendekatan pendidikan untuk membantu anak yang punya masalah pendengaran terdiri dari dua kategori: pendekatan oral dan pendekatan manual. Pendekatan oral antara lain menggunakan metode membaca gerak bibir (speech reading) sedangkan pendekatan manual adalah dengan bahas isyarat dan mengeja jari (finger spelling).


  • Gangguan Fisik
         Gangguan fisik anak antara lain adalah gangguan ortopedik, seperti gangguan karena cedera otak (cerebral palsy), dan gangguan kejang-kejang (seizure). Banyak anak yang mengalami gangguan fisik ini membutuhkan pendidikan khusus dan pelayanan khusus, seperti transportasi, terapi fisik, pelayanan kesehatan sekolah, dan pelayanan psikologi khusus.


  • Gangguan Ortopedik
          Gangguan ortopedik biasanya berupa keterbatasan gerak atau kurang mampu mengontrol gerak karena ada masalah di otot, tulang, atau sendi. Tingkat keparahan gangguan ini bervariasi. Gangguan ortopedik ini bisa disebabkan oleh problemprenatal (dalam kandungan) atau perinatal(menjelang atau sesudah kelahiran), atau karena penyakit juga karena kecelakaan saat anak-anak.


  • Radiasi Mental
      Radiasi mental adalah kondisi sebelum usia 18 tahun yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan (IQ dibawah 70) dan sulit beradaptasi dengan kehidupan sehari-hari.
Penyebab, disebabkan oleh faktor genetik dan kerusakan otak.


  • Faktor genetik. 
       Bentuk yang paling umum dari retardasi mental adalah Down syndrome yang ditransmisikan (diwariskan) secara genetik. Anak dengan down syndrome ini punya kromosom lebih (kromosom ke-47). Wajah nya bulat, tengkorak yang datar, ada kelebihan kulit di atas alis, lidah panjang, kaki pendek, dan retardasi kemampuan motor dan mental.


Fragile X syndrome adalah tipe kedua yang paling lazim dari retardasi mental. Sindrom ini diwariskan secara geentik melalui kromosom X yang tidak normal, yang menyebabkan retardasi mental ringan sampai berat. Ciri-cirinya adalah wajah memanjang, rahang menonjol, telinga panjang, hidung pesek, dan koodinasi tubuh buruk.


Kerusakan Otak, dapat diakibatkan oleh bermacam-macam infeksi atau karena faktor lingkungan luar (Das, 2000). Infeksi pada ibu hamil, seperti rubella  (German measles), sipilis, herpes, dan AIDS, dapat menyebabkan retardasi diri pada diri anak. Meningitis dan enchepalitis adalah infeksi yang bisa muncul pada masa kanak-kanak. Infeksi ini bisa menyebabkan pembengkakan otak dan menyebabkan retardasi mental.


Fetal alcohol syndrome (FAS) adalah serangkaian ketidaknormalam, termasuk retardasi mental dan ketidaknormalan wajah, yang mucul dalam diri anak dari ibu yang kecanduan minuman beralkohol pada waktu hamil. FAS menimpa sekitar sepertiga dari anak dari wanita yang kecanduan alkohol.


Gangguan Bicara dan Bahasa

Gangguan bicara dan bahasa: sejumlah masalah problem bicara yaitu:

Gangguan Artikulasi: problem dalam melafalkan suara secara benar.Gangguan Suara: gangguan dalam menghasilkan ucapan, yakni ucapan yang keras, kencang, terlalu keras, terlalu tinggi atau terlalu rendah nadanya. Gangguan Kefasihan: gangguan yang biasanya disebut “gagap”Gangguan Bahasa: kerusakan signifikan dalam bahasa reseptif atau bahasa ekspresif anak.Bahasa Reseptif: Resepsi dan pemahaman bahasa.Bahasa Ekspresif: kemampuan menggunakan bahasa untuk mengekspresikan pemikiran dan berkomunikasi dengan orang lain.

Ketidakmampuan Belajar

Learning Diasbility adalah ketidakmampuan dimana anak:

1.      Punya inteligensi normal atau di atas rata-rata.

2.      Kesulitan setidaknya dalam satu atau lebih mata pelajaran.

3.      Tidak punya problem atau gangguan lain, seperti retardasi mental, yang menyebabkan kesulitan.

Dyslexia adalah kerusakan berat dalam kemampuan membaca dan mengeja.


Identifikasi

Identifikasi awal terhadap gangguan belajar biasanya dilakukan oleh guru di kelas. Apabila dicurigai ada anak yang mengalaminya, guru akan memanggil spesialis.


Strategi Intervensi

Banyak intervensi difokuskan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca si anak.


Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah ketidakmampuan dimana anak secara konsisten menunjukkan satu atau lebih ciri-ciri berikut:

1.      Kurang perhatian

2.      Hiperaktif

3.      Impulsif


Gangguan Perilaku dan Emosional

Gangguan Perilaku dan Emosional adalah problem serius dan terus-menerus yang berkaitan dengan hubungan, agresi, depresi, ketakutan yang berkaitan dengan persoalan pribadi atau sekolah, dan juga berhubungan  dengan karakteristik sosio-emosional.


ISU PENDIDIKAN YANG BERKAITAN DENGAN  ANAK YANG MENDERITA KETIDAKMAMPUAN

1.      Aspek Hukum

·         Individual with Disabilities Education Act (IDEA)

·         Least Restrictive Environment (LRE)

2.      Penempatan dan Pelayanan

·         Penempatan. Penempatan anak dengan ketidakmampuan ini disusun dari tempat yang kurang restriktif sampai ke yang paling restriktif.

·         Pelayanan. Pelayanan untuk anak dapat disediakan oleh guru kelas regular, guru sumber daya, guru pendidikan khusus, konsultan kolaboratif, professional lain atau tim interaktif.

3.      Orang Tua sebagai Mitra Pendidikan

·         Teknologi. Ada dua tipe teknologi:

1.      Teknologi instruksional berupa berbagai tipe hardware dan software, dikombinasikann dengan metode pengajaran yang inovatif untuk mengakomodasikan kebutuhan belajar di kelas.

2.      Teknologi bantuan berupa beragam perangkat dan pelayanan untuk membantu murid penderita ketidakmampuan agar kita bisa berkomunikasi di lingkungan mereka.


ANAK-ANAK BERBAKAT

Anak dengan kecerdasan diatas rata-rata (biasanya didefinisikan memiliki IQ 130 atau lebih) dan/atau punya bakat unggul dibeberapa bidang seperti music, seni, atau matemitika.


Karakteristik

Ellen Winner (1996), mendeskripsikan tiga kriteria yang menjadi ciri anak berbakat:

1.      Dewasa lebih dini (precocity)

2.      Belajar menuruti kemauan mereka sendiri

3.      Semangat untuk mengawasi


Studi Terman Klasik

Steven Ceci (1990) mengatakan bahwa analisis terhadap perkembangan kelompok dalam studi Terman menunjukkan sesuatu yang penting.Bukan IQ saja yang membuat mereka sukses.


Mendidik Anak Berbakat

Empat opsi program  untuk anak berbakat adalah

·         Kelas khusus

·         Akselerasi dan pengayaan di kelas regular

·         Program mentor dan pelatihan

·         Kerja/studi dan/ program pelayanan masyarakat.

Minggu, 09 April 2017

Laporan Hasil Observasi SMP Dharma Pancasila


Berikut kami tuliskan laporan hasil Observasi SMP Dharma Pancasila, Medan.


Topik
Manajemen Kelas pada Siswa SMP
Judul
Manajemen Kelas pada Siswa SMP Dharma Pancasila
I.                   Pendahuluan
Dalam lingkaran pendidikan, biasanya dikatakan bahwa tidak seorangpun yang memperhatikan manajemen kelas (classroom) yang baik kecuali kelas menjadi ruwet. Ketika kelas dikelola secara efektif, kelas akan berjalan lancar dan murid akan aktif dalam pembelajaran. Ketika kelas dikelola dengan buruk, kelas bisa menjadi kacau dan tidak menarik sebagai tempat belajar.
Manajemen kelas yang efektif akan memaksimalkan kesempatan pembelajaran murid (Charles, 2002; Evertson, Emmer, & Whorsham, 2003). Para pakar dalam bidang manajemen kelas melaporkan hawa ada perubahan dalam pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan lama menekankan pada penciptaan dan pengaplikasian aturan untu mengkontrol tindak tanduk murid. Pandangan yang baru memfokuskan pada kebutuhan murid untuk mengembangkan hubungan dan kesempatan untuk menata diri (Kennedy, dkk., 2001).
Manajemen kelas yang mengorientasikan murid pada sikap pasif dan patuh pada aturan ketat dapat melemahkan keterlibatan murid dalam pembelajaran aktif, pemikiran, dan konstruksi pengetahuan sosial (Charles & Senter, 2002). Tren baru dalam manajemen kelas lebih menekankan pada pembimbingan murid untuk menjadi lebih mau berdisiplin diri dan tidak terlalu menekankan pada kontrol eksternal atas diri murid (Freidberg, 1999). Secara historis, dalam manajemen kelas guru dianggap sebagai pengatur. Dalam tren yang lebih menekankan pada pelajaran, guru lebih dianggap sebagai pemandu, koordinator dan fasilitator (Freiberg, 1999; Kauffman, dkk., 2002). Model manajemen kelas yang baru bukan mengarah pada model permisif. Penekanan pada perahatian dan regulasi diri murid bukan berarti guru tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi dikelas (Emmer & Stough, 2001).

1.      Rumusan Masalah
a.       Apakah manajemen ruang kelas sudah tertata dengan baik dan kondusif?
b.       Bagaimana kondisi ruang kelas ketika Kegiatan Belajar Mengajar?
c.        Apakah gaya pengajaran yang diberikan sudah memberikan cukup motivasi untuk belajar para Siswa?
2.      Tujuan
a.       Untuk mengetahui manajemen kelas yang sudah cukup kondusif.
b.      Untuk mengetahui kondisi ruang kelas ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.
c.        Untuk mengetahui sejauh mana gaya pengajaran di SMP Dharma Pancasila.
3.      Manfaat
a.       Menambah wawasan akan manajemen kelas.
b.      Memberikan pengalaman tersendiri setelah melakukan Observasi di SMP Dharma Pancasila.

Alat dan Bahan
1.      Alat tulis (kertas dan pulpen).
2.      Kamera Hp.
3.      Reward (berupa pulpen).

Subjek penelitian
3 orang guru, 29 orang murid kelas 7C dan 28 orang murid kelas 8D. 

II.                Analisis Data
Metode yang kami gunakan dalam menyelesaikan oservasi pendidikan terhadap manajemen kelas adalah sebagai berikut:
Metode Pengamatan
Metode yang kami gunakan adalah dengan mengamati bagaimana cara guru menjelaskan pelajaran dan menjaga agar murid-murid tetap memperhatikan penjelasan dan mengamati bagaimana cara belajar murid kelas 7C dan 8D.

Kalkulasi Biaya
Reward (3 kotak pulpen)     = Rp 30.000,-
Transportasi                         = Rp 16.000,-
   Total                                 = Rp 46.000,-

Profil Sekolah
Sekolah : SMP SWASTA DHARMA PANCASILA
Nomor Statistik Sekolah : 204076007363
NPSN : 10210063
Tahun Berdiri : 1987
Status Akreditasi : Terakreditasi A
Alamat Sekolah : Jl. Dr. T. Mansyur No.71.A Medan
Kecamatan : Medan Selayang
Kota : Medan
Propinsi : Sumatera Utara
Izin Operasional : Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan Nomor : 420 / 134I0/ Pr / 05 Tgl, 26 Desember 2005 I.
Sarana dan Prasarana:
1.  Ruang Belajar: kelas VII: 3 kelas, VIII : 4 ruang kelas, IX: 4 ruang kelas.
2.  LaboratoriumBiologi:1 ruang Fisika:1 ruang Kimia:1 ruang
3.  Perpustakaan:1 ruang
4.  Ruang Komputer:1 ruang ; 20 Unit Komputer
5.  Ruang BP/BK:1 ruang
6.  Ruang Media Pembelajaran:1 ruang ; TV 29 inc, 1 Unit, CD Pemb. Sem.1 dan 2
7.  Ruang Mushalla:1 ruang
8.  Ruang Agama Kristen:1 ruang
9.  Ruang Ka. Sekolah:1 ruang
10.Ruang Waka. Sekolah:1 ruang
11 Ruang Guru:1 ruang
12.Ruang Tata Usaha:1 ruang
13.Ruang Pramuka:1 ruang
14.Ruang WC siswa:6 ruang
15.Ruang WC Guru/Pegawai:2 ruang
16.Ruang WC Ka. Sekolah:1 ruang
17.Ruang Komputer TU:1 ruang
18.Ruang Dapur:1 ruang
19.Kanteen Sekolah:2 buah
20.Komputer yang ada:24 Unit
21.Tape recorder/In Focus/screen, sound system lengkap. Loud speaker lapangan untuk pengumuman dan Upacara Nasional. Loud speaker di seluruh ruang kelas siswa.
Tenaga Pengajar:
Guru PNS DPK:3 Orang (S.1)
Guru Honor: 21 Orang (S.1)
Tenaga Administrasi :
Honorer:8 Orang
Scurity:
PNS Pempropsu:1 Orang
Kepala Sekolah:
S U W I T O, S.Pd
Pembina
NIP. 19640929 198803 1 007

LANDASAN TEORI
 Mengelola Kelas Secara Efektif
           Manajemen kelas yang efektif memaksimalkan kesempatan belajar anak-anak. Para ahli dalam manajemen kelas mengungkapkan bahwa telah terjadi perubahan pemikiran tentang cara terbaik untuk mengelola kelas. Pandangan sebelumnya lebih menekankan pembuatan dan penerapan peraturan dalam mengendalikan perilaku siswa. Pandangan terbaru lebih memfokuskan diri pada kebutuhan siswa dalam memelihara hubungan dan kesempatan untuk meregulasi diri. Manajemen kelas yang mengorientasikan siswa ke arah kepasifan dan kepatuhan dengan peraturan yang ketat bisa merusak keterlibatan mereka dalam pembelajaran yang aktif, tingkat pemikiran yang lebih tinggi, dan konstruksi sosial pengetahuan. Tren baru dalam manajemen kelas menempatkan lebih banyak penekanan pada pembimbingan siswa ke arah disiplin diri dan lebih sedikit penekanan pada pengendalian siswa secara eksternal. Dalam tren saat ini yang berpusat pada siswa, guru lebih dianggap sebagai pembimbing, koordinator, dan fasilitator. Model manajemen kelas yang baru tidak berarti masuk kedalam model yang permisif. Penekanan terhadap perhatian dan regulasi diri siswa tidak berarti bahwa guru melepaskan tanggung jawab atas apa yang terjadi di dalam kelas.
 Masalah-Masalah pada Kelas yang Besar dan Berpotensi Menimbulkan Kekacauan
·         Ruang kelas itu multidimensional, ruang kelas adalah tempat untuk banyak aktivitas yang berkisar dari aktivitas akademis sampai aktivitas sosial. Guru harus terus mencatat dan memantau perkembangan siswa.
·          Aktivitas terjadi secara bersamaan, banyak aktivitas kelas terjadi secara bersamaan.
·         Hal-hal terjadi dengan cepat, peristiwa-peristiwa seringnya terjadi dengan cepat di ruang kelas dan sering kali membutuhkan respon saat itu juga.
·         Peristiwa sering kali tidak dapat diprediksi, meskipun sudah merencanakan aktivitas hari itu dan sangat teratur, peristiwa yang tak terduga tetap akan terjadi.
·         Hanya ada sedikit privasi, ruang kelas adalah tempat umum dimana siswa mengobservasi bagaimana guru menangani masalah kedisiplinan, peristiwa yang tidak terduga, dan keadaan yang membuat frustasi. Sebagian besar dari apa yang terjadi pada seorang siswa diobservasi oleh siswa lain dan siswa membuat atribusi tentang apa yang terjadi.
·         Ruang kelas memiliki sejarah, siswa mempunyai kenangan tentang kejadian sebelumnya di kelas mereka. Mereka mengingat bagaimana guru menangani maslaah kedisiplinan sebelumnya, dimana siswa mendapatkan lebih banyak hak istimewa daripada siswa lain, dan apakah guru bertindak sesuai janjinya. Beberapa minggu pertama tahun ajaran sekolah adalah penting untuk menetapkan prinsip-prinsip manjemen kelas. 
         Sifat kelas yang besar dan kompleks bisa menimbulkan masalah apabila kelas tidak dikelola secara efektif. Masalah seperti ini merupakan persoalan umum yang utama tentang sekolah. Kurangnya kedisiplinan dianggap sebagai masalah yang paling penting kedua, setelah kurangnya dukungan financial (Gallup Poll, 2004).
Strategi dan Tujuan Manajemen
            Manajemen kelas yang efektif bertujuan untuk:
·         Membantu siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar dan lebih sedikit untuk perilaku yang tidak mengarah pada tujuan. Manajemen kelas yang baik akan membantu memaksimalkan waktu pembelajaran guru dan waktu belajar siswa.
·         Mencegah siswa mengembangkan masalah. Sebuah kelas yang dikelola dengan baik tidak hanya membantu perkembangan pembelajaran, tetapi juga membantu mencegah berkembangnya masalah akademis dan emosional. Kelas yang dikelola dengan baik membuat siswa-siswa tetap sibuk dengan tugas yang aktif dan menantang, melakukan aktivitas yang membuat siswa menjadi terpikat dan termotivasi untuk belajar, serta menetapkan peraturan yang jelas yang harus diterima oleh siswa.
Gaya Penyusunan Ruang Kelas
·         Gaya Auditorium (auditorium style), semua siswa duduk menghadap guru. Susunan ini mencegah kontak siswa secara berhadap hadapan dan guru bebas untuk bergerak kemana pun didalam ruangan.
·         Gaya berhadap-hadapan (face-to-face style), siswa duduk menghadap satu sama lain. Gangguan dari siswa lain akan lebih tinggi daripada dalam gaya auditorium.
·         Gaya off-set (off-set style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya tiga atau empat) duduk di meja, tetapi tidak duduk berseberangan secara langsung dari satu sama lain. Gaya ini menghasilkan lebih sedikit gangguan daripada gaya berhadap-hadapan dan bisa efektif untuk aktivitas belajar yang kooperatif.
·         Gaya seminar (seminar style), siswa dalam jumlah besar (sepuluh atau lebih) duduk dalam susunan sirkuler, empat persegi, atau bentuk U.
·         Gaya kelompok (cluster style), siswa dalam jumlah kecil (biasanya empat sampai delapan) bekerja dalam kelompok kecil yang berdekatan.
               Menjadi seorang komunikator yang baik
 Komunikasi Verbal    
 Ketika berbicara di dalam kelas dan dengan siswa,, salah satu hal terpenting yang harus diingat adalah untuk dengan jelas mengomunikasiskan informasi. Kejelasan berbicara sangatlah penting dalam pengajaran yang baik. Para ahli komunikasi merekomendasikan untuk mengganti pesan “Anda” dengan pesan “Saya” karena membantu untuk mengalihkan percakapan kea rah yang lebih konstruktif dengan mengungkapkan perasaan tanpa menilai orang lain. Kemudian aspek lain dalam komunikasi verbal melibatkan bagaimana orang-orang menghadapi konflik.

Komunikasi Nonverbal
Selain dengan berbicara, guru juga dapat berkomuniasi melalui bagaimana dia melipat tangan, melemparkan pandangan, menggerakkan mulut, menyilangkan kaki, atau menyentuh orang lain.

Menangani Perilaku Bermasalah
           Intervensi bisa dikarakteristisasikan sebagai minor atau moderat. Intervensi minor melibatkan penggunaan petunjuk nonverbal, membiarkan aktivitas tetap berjalan, mendekati siswa, mengalihkan perilaku, memberikan pembelajaran yang dibutuhkan, secara langsung dan tegas memberitahu siswa tersebut untuk menghentikan perilaku tersebut, serta memberi siswa sebuah pilihan. Intervensi moderat melibatkan tidak memberikan hak istimewa atau aktivitas yang diinginkan, mengasingkan atau memindahkan siswa, serta memberikan hukuman.
      Kekerasan adalah persoalan utama yang semakin meningkat di sekolah. Bersiaplah untuk tindakan agresif dari pihak siswa sehingga guru bisa dengan tenang menghadapinya. Berusahalah untuk emnghindari argument atau konfrontasi emosional.

Hasil Observasi
Dalam observasi ini, kami mengobservasi manajemen kelas di kelas 7C dan 8D. Jadi hasil dari observasi kami memperoleh data sebagai berikut:
Mata pelajaran: Agama Islam
Kelas               : VII-C Unggulan

Pada pukul 08.25 siswa membaca doa sebelum memulai pelajaran dan dilanjutkan dengan membaca Surah-surah pendek Al-Quran
Kelas sebelumnya sudah dibentuk menjadi 6 kelompok dengan susunan masing- masing
kelompok sebanyak 5 siswa
kelompok  sebanyak 6 siswa
kelompok sebanyak 4 siswa
kelompok  sebanyak 5 siswa
kelompok  sebanyak 4 siswa
kelompok   sebanyak 5 siswa
total siswa kelas VII- C SMP Dharma Pancasila sebanyak 29 siswa




Waktu (WIB)
Kegiatan Murid
Suasana Kelas
08.31
Murid ditanya tentang review pelajaran lalu, dan siswa menjawab pertanyaan dengan antusias

08. 32
Ada 10 siswa-siswi yang mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru


08.34
Seorang siswa dari kelompok3 ditanya, lalu menjawab namun semua siswa berusaha menimpali jawabannya


08.36
Seorang siswa ditanya karena ia melamun bernama Putri dari kelompok 5


08.37
Seorang siswa yang ditanya pun maju lalu menjawab pertanyaan dengan lancar


08.38
Siswa Somalia dari kelompok 5 terlihat sedang memakan permen karet

08.41
Siswa dari kelompok 2 berdiri melihat ke jendela kelas dimana terlihat lapangan basket

08.42
Siswa dari kelompok 2 menanyakan kepada guru tentang pelajaran.
Siswa di Kelompok 3 menjawab pertanyaan

08.43
Siswa Somalia dari kelompok 2 tertidur sesaat

08.44
Seorang siswa dari kelompok 1 diminta guru membaca materi pelajaran untuk disimak seisi kelas

08.46
Siswa dari kelompok 6 melanjutkan membaca bergilir

08.47
Seorang siswa dari kelompok 6 berpindah ke kelompok 1

08.48
Setiap kelompok diminta guru membuat rangkuman pelajaran yang baru saja dipelajari dalam selembar kertas

08.50
Siswa di kelompok 2 kembali melihat ke samping kiri kelas yaitu lapangan basket

08.54
Siswa Somalia di kelompok 5 terlihat sedang asyik menggambar

09.00
Kelompok TD terlihat cukup tenang.
Kelompok 4 terlihat sibuk berdiskusi, siswa Somalia di kelompok tersebut membantu kelompoknya menyampaikan ide-idenya

09.05
Kelompok 3 diminta maju oleh guru dan menjelaskan dengan lancar secara bergantian dengan membaca hasil rangkuman materi mereka

09.06
Kelompok 3 salah dalam menjelaskan salah satu bagian dari rangkuman mereka

09.08
Kelompok 4 bersemangat ingin maju, namun kelompok 6 dipilih guru untuk maju

09.09
Seorang siswi dari kelompok 5 memimpin kelompoknya menyampaikan kesimpulan. Siswa Somalia di kelompok 5 masih tetap memakan permen dan asyik melihat gambar yang ia buat di buku tulisnya dan tidak menggubris teman di sebelahnya yang berusaha mengajaknya mengerjakan tugas rangkuman saat kelompok 5 menjelaskan

09.12
Seorang siswa bernama Khairun ditanya guru tentang apa yang disampaikan oleh kelompok 5

09.13
Kelompok 2 maju menjelaskan dimana terdapat siswa Somalia yang ikut menyampaikan dengan lancar

09.15
Kelompok 6 diberi pertanyaan oleh guru

09.18
Kelompok 1 diminta maju menjelaskan dan terlihat lancar dan jelas ketika menyampaikan penjelasan

09.20
Salah satu siswa kelompok 5 pindah ke kursi dimana ditempati sebelumnya oleh kelompok 1 yang maju

09.21
Siswa kelompok 4 menanggapi

09.24
Kelompok lainnya ada yang tertawa saat mendengar penjelasan kelompok 1 karena menganggap penjelasan yang disampaikan kelompok 1 sama dengan apa yang disampaikan kelompoknya

09.30
Kelompok 2 menanggapi kelompok 5

09.32
Guru menyampaikan tugas hafalan berupa Surah-surah yang harus dihafal saat minggu depan

09.41
Kelas berakhir dengan ditandai bel istirahat


Laporan observasi guru
Sebelum kelas dimulai, ibu guru memimpin atau memandu para murid untuk mengawali pembelajaran dengan doa-doa yang diikuti oleh para murid. Ibu guru mengawali pelajaran dengan memberikan pertanyaan kepada para murid tentang pelajaran sebelumnya. Ibu guru menanyakan pertanyaan kepada seorang murid dan menegur murid yang tidak memberi kesempatan kepada temannya untuk menjawab. Ibu guru juga memberikan kesempatan kepada para murid untuk menjawab pertanyaan di depan kelas guna mengasah pengetahuan para murid. Ibu guru melakukan komunikasi aktif dengan para murid dalam pembelajaran di kelas. Ibu guru memberikan waktu kepada setiap kelompok untuk mendiskusikan mata pelajaran dan mempresentasikannya di depan kelas.
Waktu (WIB)
Kegiatan Murid
Suasana Kelas
09.00
Ibu guru memainkan hp nya sembari menunggu presentasi kelompok

09. 07
Ibu guru membenarkan pengucapan awalan presentasi kelompok dan mengondusifkan kelas agar tetap tenang dan menyimak presentasi kelompok lain

09.10
Ibu guru menanyakan kepada kelompok lain tentang apa yang telah mereka simak dari kelompok yang melakukan presentasi


09.14
Ibu guru meminta kelompok 6 dan kelompok yang lain untuk menanggapi kelompok yang presentasi

09.26
Ibu guru meminta para murid untuk menghargai murid yang berbeda ras atau suku

09.30
Ibu guru menjelaskan kembali atau merangkum presentasi dari para murid

09.37
Ibu guru meminta penjelasan lagi dari yang ibu guru terangkan kepada murid yang tidak menyimak dengan baik penjelasannya

09.39
Ibu guru memberikan tugas untuk dibahas pada pertemuan minggu depan atau selanjutnya


Hasil observasi kelas VIII-D
Pukul 08.20 kelas dimulai dengan pelajaran IPA, membahas tentang “Zat Adiktif dan Zat Aditif”. Jumlah siswa di kelas VIII-D sebanyak 28 orang, terdiri dari 11 orang laki-laki dan 17 orang perempuan.



Waktu (WIB)
Kegiatan Murid
Suasana Kelas
08.20
Murid cukup aktif menjawab saat guru bertanya.
Beberapa murid terutama pada barisan belakang tidak memperhatikan saat guru menjelaskan.
Kelas cukup aktif, tetapi cenderung berisik.
08. 28
Seorang murid berjalan kearah bangku temannya untuk meminjam sesuatu.
Pembelajaran dikelas diselingi candaan dari para murid.
08.33
Beberapa murid mulai tidak memperhatikan guru dan bermain atau mengobrol dengan temannya.
Seorang murid terlihat menopang dagu.
Murid di barisan kiri menyuruh teman yang duduk di belakangnya untuk diam.
Tetap aktif dan berisik.
Beberapa murid mulai terlihat bosan.
08.38
Saat guru mulai menjelaskan pelajaran dengan serius murid-murid mulai memperhatikan guru lagi.
Kelas kembali kondusif dan murid memperhatikan penjelasan dari guru.
08.45
Beberapa murid mulai mengobrol kembali.
Seorang murid di barisan sebelah kiri tiduran di mejanya.
Membahas materi dengan candaan.
08.50
Dua orang murid laki-laki di barisan depan mulai mengobrol.
Beberapa murid menunduk saat guru menerangkan terutama pada barisan belakang.
Sebagian murid kehilangan minat mendengarkan guru.
08.55
Di saat murid-murid di instruksikan membaca buku, murid yang duduk dibarisan kanan paling belakang tidak membaca bukunya.
Beberapa murid berbicara dengan temannya
Sebagian memperhatikan saat guru menjelaskan dan lebih banya murid yang tidak memperhatikan.
09.00
Murid menjawab saat guru bertanya.
Banyak murid yang tiduran di meja
Murid perempuan barisan paling kiri bersandar ke bahu temannya.
Setengah dari kelas kehilangan perhatian pada pelajaran.
09.05
Mata pelajaran IPA berakhir.
Semua murid senang dan sangat berisik.


Pukul 09.08 kelas Matematika dimulai, membahas tentang bangun ruang.


Waktu (WIB)
Kegiatan Murid
Suasana Kelas
09.08
Seorang murid berinisiatif menghapus papan tulis yang penuh dengan tulisan.
Guru menulis di papan tulis diikuti oleh murid-murid yang juga menyalinnya di buku catatan.
Suasana kelas cukup kondusif.
09.13
Seorang murid di barisan depan menguap.
Seorang murid bertanya kepada guru.
Beberapa anak mulai mengobrol.
Kelas mulai tidak kondusif tetapi masih dalam keadaan tenang.
09.15
Beberapa orang murid berjalan di kelas untuk meminjam penggaris dari temannya.
Murid barisan belakang sebelah kiri berebut penggaris.
Beberapa murid mengobrol saat guru menulis/menggambar bangun ruang di papan tulis.
Kelas mulai berisik.
09.18
Murid-murid memuji hasil gambar guru di papan tulis.
Murid perempuan di barisan depan menunjukkan cara menggambar prisma pada teman yang duduk dibelakangnya.
Kelas tidak kondusif
09.20
Murid-murid mengobrol dengan suara keras saat guru masih menggambar di papan tulis.
Beberapa murid kembali berjalan di kelas.
Suasana kelas berisik dan juga diselingi candaan.
09.26
Seorang murid berjalan ke depan kelas bertanya ke guru
Murid di barisan paling belakang berebut penggaris.
Suasana kelas berisik.
Murid-murid masih menggambar yang ada di papan tulis.
09.28
Beberapa murid bertanya pada guru mengenai hasil gambaran mereka.
Beberapa murid keluar izin keluar kelas untuk membeli penggaris.
Masih dengan suasana yang kurang kondusif.
09.31
Murid-murid dibantu guru dalam menggambar bangun ruang .
Kelas berisik dengan candaan para murid.
09.40
Mata pelajaran Matematika berakhir
Murid-muris senang dan kelas sangat berisik.

A.    Mata Pelajaran Biologi (Ibu Dra. Elvi Indrawati Daulay)
PUKUL (WIB)
KEGIATAN GURU

8.20
Guru masuk ke kelas.
Menyapa seluruh siswa.
Menyuruh siswa mengeluarkan literasi.

8.23
Guru menanyakan materi minggu lalu (Zat Aditif & Zat Adiktif pada Makanan), karena berkaitan dengan materi hari ini (melanjutkan materi yang belum dibahas habis).
8.25
Guru mendatangi murid yang ribut dan menanyakan apa yang mereka ributkan dengan halus.
8.27
Guru menjelaskan materi dan menuliskannya di papan tulis, dan aktif bertanya kepada siswa mengenai materi yang dibawakan.


8.35
Guru duduk, dan menyuruh siswa membacakan pengertian dari zat aditif dan zat adiktif.
Guru menanyakan pengalaman siswa dalam mengonsumsi zat aditif (kopi, teh, dll).
Guru menjelaskan sedikit tentang pubertas karena berkaitan dengan materi.
8.40
Guru menegur halus salah satu siswa yang sedikit vulgar, dengan berkata “Semangat pagi, pikiran harus positif).

8.47
Guru menanyakan siswa yang pernah minum kopi.
Guru menanyakan siswa yang pernah mencoba / sudah merokok.
Guru berdiri, dan sambil berjalan menasehati siswanya yang pernah mencoba / sudah merokok, dan yang belum mencoba / tidak merokok.

8.50
Ketika suasana ribut, guru menyuruh siswa untuk memperhatikannya dengan cara yang halus dengan berkata “Ayo kesini (menghadap ke guru dan tenang)”.


8.55
Guru menceritakan tentang susahnya membuat / mencari rokok pada zaman dulu dan membandingkannya dengan rokok sekarang (instan)
Guru mengarahkan siswa untuk membuka halaman berikutnya, yang membahas tentang kandungan berbahaya dalam rokok, dan menjelaskan bahaya rokok bagi tubuh sambil berjalan.
9.05
Guru menutup pelajaran hari ini dikarenakan pergantian les.

B.     Mata Pelajaran Matematika (Bapak Bambang Hermanto, S.Pd)
PUKUL (WIB)
KEGIATAN GURU

9.05
Guru masuk dan menyapa siswa.
Guru menyebutkan materi hari ini adalah Prisma.
Guru mengarahkan siswa yang remedial minggu lalu untuk duduk di depan.
9.10
Guru menjelaskan pengertian prisma sambil berdiri, dan menuliskannya di papan tulis.


9.13
Guru mengabaikan siswa yang menguap dengan  keras  dan beberapa siswa lainnya yang mengeluhkan materi hari ini, sambil menggambarkan prisma.
Guru tetap tenang menggambarkan prisma lainnya walaupun keadaan kelas kurang kondusif.


9.20
Guru menyuruh siswa untuk menggambarkan prisma di papan tulis kedalam buku tulis, dan memberi tantangan untuk menggambarkan salah satu prisma dengan bentuk tegak, karena guru menggambarkannya di papan tulis dengan bentuk seperti berbaring / tidak tegak.
Guru mempersilahkan siswa yang izin keluar untuk membeli penggaris di kantin.

9.25
Guru duduk, dan menjelaskan cara menggambar prisma dengan baik.
Guru bercanda dengan observer dan siswa (meminta untuk merekam hasil gambarnya di papan tulis, dan dimasukkan ke YouTube).
Guru tidak melakukan upaya apapun untuk mengkondusifkan kelas.



9.30
Salah satu siswa datang menemuinya untuk diminta kritik atas gambarnya.
Guru memuji hasil gambar siswa, kemudian guru berdiri dan berkeliling sambil berkata “Gambar yang tidak sejajar akan disalahkan”.
Guru mengecek sambil berjalan, dan mengkritik hasil gambar siswa untuk diperbaiki.
Guru membantu siswa yang kesulitan dalam menggambar prisma.

9.40
Guru kembali duduk, seperti ingin istirahat sambil memeriksa hasil kerja siswa minggu lalu.
Guru hanya aktif berinteraksi dengan siswa apabila siswa tersebut datang ke mejanya karena mengalami kesulitan.
9.55
Guru mengizinkan siswa untuk keluar kelas karena sudah waktunya istirahat.

III.             Kesimpulan
Kami menyimpulkan bahwa manajemen kelas yang dilakukan guru cukup baik sehingga murid menjadi aktif dikelas dengan berani bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru, mandiri, menunjukkan penghargaan diri yang tinggi, dan hangat dengan saling meminjamkan alat-alat tulis yang diperlukan kepada teman-temannya.
Testimonial
·         http://marnalajessica.blogspot.com/ (161301105)
Observasi yang kami lakukan di SMP Dharma Pancasila merupakan pengalaman pertama saya dalam mengobservasi dan terjun langsung ke dalam kelas untuk melihat situasi atau manajemen kelas. Pada saat observasi, saya melihat proses pembelajaran dari siswa-siswi dan penerangan yang dilakukan oleh ibu guru di kelas VIIIC yang berjalan dengan baik dan siswa-siswi di kelas tersebut aktif dalam mengikuti pembelajaran. Manfaat dari kegiatan observasi pada mata kuliah Psikologi Pendidikan ini tentu berguna bagi saya di masa depan agar dapat memahami keadaan dan perkembangan pendidikan yang ada di sekitar saya.

·         psikostra.blogspot.co.id (161301108)
bagi saya observasi kali ini punya banyak pembelajaran yang bisa di petik. misalnya, belajar toleransi antar etnis, maupun antar teman. melalui observasi ini saya juga belajar untuk berfikir lebih kritis, karena dalam sebuah observasi kita dituntut untuk menganalisis keadaan. observasi-observasi seperti ini sangat bermanfaat menurut saya.

·         http://salsadiladwizani.blogspot.co.id/ (161301123)
Saya merasa tugas observasi ini cukup bermanfaat dalam menambah pengalaman saya. Dikarenakan kami dituntut langsung untuk terjun kelapangan untuk mengamati manajemen kelas. Saya merasa tugas observasi ini sangat berkesan dan membantu saya mengenal sesuatu yang baru yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya. Ini merupakan sebuah pengalaman yang baru dan menyenangkan untuk saya. Dengan melakukan tugas observasi ini saya jadi bisa melihat bagaimana cara guru menarik perhatian muridnya untuk memperhatikan pelajaran, bagaimana murid-murid memperhatikan guru disaat guru sedang menerangkan pelajaran dan bagaimana suasa kelas ketika guru sedang menjelaskan.

·         http://sibukdikampus.blogspot.co.id/ (161301126)
Menurut saya, observasi ini sangat bermanfaat, dengan observasi ini kita bisa melihat bahwa apa yang kita pelajari pada mata kuliah Psikologi Pendidikan benar adanya. Dengan observasi ini kita terbantu untuk mengingat materi yang sudah kita pelajari.

·         http://malamberbintangorion.blogspot.com/ (161301135)
Menurut saya melakukan observasi ini sangat menyenangkan, dengan melakukan observasi ini saya mendapatkan pengalaman baru yang sangat menyenangkan.

·         https://adelyatsngeblog.blogspot.co.id/ (161301148)
Ini adalah pengalaman pertama saya dalam mengikuti observasi. Disini kami langsung ke tempat penelitian untuk meneliti managemen kelas. Tugas ini bermanfaat sekali, dan disini saya juga sadar bahwa setiap guru memiliki cara masing-masing dalam memberikan materi dan menghadapi murid-murid yang mereka ajar.

·         http://jinanmunawar16152.blogspot.co.id/ (161301152)                                                                              
      Selama saya mengobservasi kegiatan belajar mengajar di kelas VII-C ada banyak hal yang saya dapat saya amati. Seperti di kelas tersebut terdapat terdapat 4 siswa asal Somalia dari total hadir 29 orang,  ada begitu banyak perilaku masing-masing murid, seperti seorang siswa Somalia yang serius membaca Al-Quran, ada siswa yang sibuk menggambar ketika guru menerangkan, siswa yang antusias bertanya dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan guru, saya merasa keals ini memiliki minat belajar yang tinggi dinilai dari berbagai kriteria seperti jumlah murid yang hadir, jumlah murid yang aktif bertanya, jumlah murid yang aktif menjawab pertanyaan dari guru, jumlah siswa yang aktif menanggapi murid dari kelompok lain ketika mereka menjelaskan tugas ringkasan yang diminta guru.

DAFTAR PUSTAKA
John W. Santrock, Psikologi Pendidikan, Chapter 13 Motivasi, Pengajaran, Pembelajaran, 2004.
Rachman, Maman. 1998. Manajemen Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi.




Comments system

Disqus Shortname

Diberdayakan oleh Blogger.